Mengenang Teman Terkasih Kita, Ryma Pitts

Mengingat Ryma sama halnya seperti mengingat kebaikan. Saya baru menyadarinya setelah mendengar berita kepergian dia kemarin, di Washington DC, tempat dia memulai kisah baru dengan cinta dan kasih yang saya yakini terbaik buat dia. Saya mungkin bukan sahabat terbaik bagi seorang Ryma Pitts, tapi saya merasa sangat kehilangan sekali setelah dia pergi. Perasaan yang sering timbul saat ada orang baik dalam kehidupan kita.

Ryma adalah salah satu orang pertama yang saya kontak untuk urusan pekerjaan di luar unit OSU. Senyum ramah dan lesung pipinya yang pertama menyambut kedatangan pertama saya di unit HD, senyum yang membuat saya lebih tenang karena grogi saat harus bertanya tentang hal yang saya bahkan belum tahu bagaimana bentuknya, maklum anak baru. Ryma membantu saya mengerti tentang dokumen, memberi banyak informasi lebih dari yang saya butuhkan. Buat orang baru seperti saya pada saat itu, bertemu orang yang tidak pelit berbagi ilmu seperti Ryma rasanya seperti dibantu berenang saat kita belum bisa berenang tapi dicemplungin ke kolam besar, kebayang kan?

Satu saat, ketika para ACS pergi retreat, saat saya masih belum mengenal banyak teman-teman ACS dari unit lain dan masih belum pede untuk mingle, saya ingat Ryma mengenalkan saya pada anak-anaknya yang cantik juga ramah (buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya, bukan?). Saya masih ingat kami bercanda tentang anak-anaknya yang saya panggil “Set by Default” karena saat saya mengambil foto mereka, mereka langsung berpose dan hasilnya memang cantik! Well, memang cantik tuh sudah bawaan he he….

Ketika saya dapat kesempatan untuk mengikuti training di Washington DC, sahabat saya Amenah Smith mengajak saya untuk memenuhi undangan datang ke rumah Ryma untuk acara syukuran anaknya, Jessica. Rasanya senang sekali melihat Ryma dan suaminya, Randy Pitts menyambut kedatangan kami dengan senyuman dan pelukan hangat. Saya melihat dan merasakan kebahagiaan di matanya. Saat berada di negara orang, sambutan teman yang hangat dan akrab adalah obat yang paling mujarab dan membuat kita merasa terhubung, indah sekali! Masih segar dalam ingatan saya saat kami duduk bersama di ruang tamunya sambil menikmati minuman segar, ruangan yang ditata indah dan diisi oleh lukisan-lukisan cantik yang ternyata ditata oleh Ryma! Saya baru tahu di situ bahwa Ryma bukan cuma baik dan cantik, tapi dia juga punya jiwa yang indah ❤❤

Tanpa saya sadari rupanya tiga momen itu tersimpan rapi dan membekas dalam memori dan hati saya, karena ternyata kita tidak perlu repot memikirkan orang akan mengingat kita atau tidak. Cukup dengan bersikap tulus dan berbuat baik seperti Ryma, siapapun akan mengingat dia hanya tentang kebaikannya. Bahwa ternyata banyak yang sayang dengan Ryma dan sangat kehilangan dengan kepergiannya, itu adalah bonus dari berbuat kebaikan, sesederhana itu.

Saya bersyukur sempat mengenal dia, saya sedih dia pergi meninggalkan kami lebih dulu, tapi saya percaya Tuhan Maha Tahu yang terbaik buat umat-NYA. Saya ikut bahagia karena saya yakin anak-anaknya punya ayah yang juga menyayangi mereka dengan tulus, saya berdoa semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa berada dalam lindungan Tuhan YME, senantiasa diberikan kekuatan dan kemudahan dalam hidup. Saya berdoa semoga orang baik seperti Ryma mendapat tempat terbaik di sisi-NYA.

Sudah dulu ya, saya mau nangis dulu

 

 

Advertisements

Istirahatlah Kata-Kata, film sunyi yang bising

Hanya ada satu kata: Lawan! Kata itu selalu terngiang dalam kepala saya sejak pertama kali mendengarnya dari teman saya Mbak Nia, cerita tentang gerakan reformasi tahun 1998 yang banyak memakan korban. Dan Mbak Nia adalah bagian dari sejarah; salah satu pejuang reformasi, bersama suami yang dia temui saat sama-sama berjuang membela rakyat kecil bersama Wiji Thukul. Sungguh saya tidak menyangka akan mengenal salah satu pelaku sejarah dan bisa mendengar cerita tentang Wiji Thukul, nama yang sering saya dengar tapi tak pernah tau karakternya. Dari Mbak Nia sedikit banyak saya mulai memahami siapa Wiji Thukul.

Wiji Thukul adalah penarik becak yang dengan bicara pelonya, membuat saya susah percaya bahwa pemerintah orde baru bisa takut dengan dia hingga memburunya ke pelosok. Tapi saat saya mulai membaca puisi-puisinya, hanya 1 kata yang bisa mewakili perasaan saya: power! Power moves people, tak terlihat tapi bisa menggerakkan massa, dan pada masa orde baru, itu adalah hal yang ingin diberangus oleh pemerintah.

Hari Sabtu seminggu kemaren, saya nonton film Istirahatlah Kata-Kata, film yang miskin kata-kata tapi bising akan pesan dari masa lalu. Sendirian, nggak ingin acara nonton saya diganggu oleh komentar teman di samping, tak ingin pula menit berlalu tanpa melihat dan memaknai pesan yang ada di film itu. Agak lebay sih, tapi saya nggak ingin misi saya untuk bertanya tentang reformasi ke Mbak Nia gagal hanya karena saya nonton film tapi nggak ngerti isinya.

Wiji Thukul tak banyak bicara, bukan tipe demonstran gahar yang berteriak gantung Soeharto, pada masanya. Wiji Thukul menulis puisi, tapi siapapun yang membaca puisinya pasti akan merasakan semangat pergerakan mengalir dari kata-kata yang dia tulis.

Saat film dimulai dengan adegan Sipon dan anaknya diinterogasi oleh polisi yang mencari keberadaan Wiji Thukul, saya mulai merasa gelombang pesan-pesan masuk dari 19 tahun yang lalu melalui adegan itu. Ada berapa banyak anggota keluarga para pejuang reformasi yang diintimidasi oleh aparat, saat tidur malam-malam mereka mulai berubah jadi ketakutan karena setiap malam disantroni oleh para intel dan hari-hari mereka mulai dihiasi oleh ketakutan karena tekanan-tekanan yang mereka dapatkan dari lingkungannya. Ada berapa banyak istri seperti Sipon yang harus bertahan dalam ketidaktahuan akan nasib suaminya. Ada berapa anggota keluarga yang hanya kembali nama saat mereka memperjuangkan keadilan sementara tidak ada proses hukum yang jelas hingga kini.

Salah satu adegan yang melekat di pikiran saya adalah saat Wiji Thukul mendatangi tukang cukur untuk mengubah penampilannya karena ingin membuat KTP di tempat persembunyiannya di Kalimantan. Saat tukang cukur baru mulai memotong rambutnya, seorang tentara datang, si tukang cukur langsung meminta Wiji Thukul untuk menunggu karena si tentara langsung menjadi prioritas. Si tentara kemudian mulai berbicara tentang peran dan jasa TNI terhadap negara seraya berkata kepada si tukang cukur: “Makanya, kalo ada tentara minta cukur rambutnya, kamu jangan minta bayaran”. Si tukang cukur hanya mengiyakan, entah dia setuju atau hanya agar si tentara cepat pergi. Saya mengingat masa kecil saya yang dihiasi adegan-adegan di mana tentara bisa melakukan apa saja, bahkan makan tanpa bayar. Hal sama yang masih saya temui bahkan saat saya beranjak dewasa. Selalu menjadi pertanyaan sejak saya kecil, apa yang yang menjadikan aparat istimewa hingga mereka bisa melakukan apa saja. Pertanyaan yang membuat saya tidak punya persepsi positif terhadap aparat hingga kini.

Diam, adalah kata yang tepat untuk Sipon. Saat Sipon menemui Wiji Thukul di losmen murah, tetangga Sipon yang sepertinya menaruh hati rupanya membuntuti Sipon sampai ke losmen itu. Saya berasumsi ada gosip yang beredar setelah peristiwa losmen itu di lingkungan rumah Wiji Thukul, saat adegan di mana Sipon memukul tetangganya dengan kantongan kresek belanjaannya sambil bersuara dengan nada marah: “Saya bukan lonte!” Kemudian tetangganya menjawab: “Saya mengikuti kamu sampai losmen itu”.

Sipon hanya terisak sambil memunguti ikan dan sayuran yang jatuh dari kresek yang robek. Ada gumpalan amarah dalam dadanya karena dia tidak terima disebut lonte tapi dia juga tidak bisa menjelaskan tujuannya mendatangi losmen tersebut.

Gumpalan itu bukan karena lonte, lonte hanyalah kunci pembuka saluran untuk gumpalan yang muncul karena hasil dari kumpulan fase-fase sebab akibat dari puisi-puisi Wiji Thukul berbentuk intimidasi aparat, rumah mereka yang diobrak-abrik aparat yang kemudian pergi membawa buku-bukunya, para tetangga yang tak lagi mau diajak bicara karena takut dianggap bersekongkol, para intel yang setiap malam menyantroni rumah mereka, ketidaktahuan akan nasib suaminya, pertanyaan-pertanyaan anaknya yang tak terjawab, suaminya yang akhirnya pulang ke rumah sembunyi-sembunyi tapi mereka harus berbicara pelan-pelan karena takut ada yang mendengar dan melaporkan keberadaan Wiji Thukul di rumahnya. Entah ada berapa banyak gumpalan lagi dalam dada Sipon yang tak terbaca oleh saya, saya hanya melihat bahwa bahkan Supermanpun harus berguru pada Sipon untuk bisa menjadi manusia kuat.

Wiji Thukul yang akhirnya kembali pergi meninggalkan rumahnya, bersembunyi, tak pernah kembali. Sipon tak pernah tau kemana suaminya pergi. Tapi saya berhutang pada Wiji Thukul, saya berhutang pada kalian, nama-nama yang dijauhkan dari keluarganya dan menghilang dari muka bumi tahun 1998. Mereka yang namanya tidak terkenal tapi akan terus dikenang oleh saya, kalian, yang karena mereka, kita bisa mengecap kemudahan-kemudahan dan kebebasan, kebebasan yang kini kebablasan. 

Anger vs Happiness

A simple happiness is, I have luxuries whether:
Go to work by riding my motorbike or taking public transportation.
Enjoying the rest of the day in the queue or grumbling and giving myself a bad day.
Playing games or taking a nap while in the bus.
Spending my money for buying books or clothes.
Having me time at the weekends or cleaning up the house.

Hari ini pulang naik transjakarta (kita biasa menyebutnya busway), biasanya ketiduran krn adem kena ac. Tapi hari ini dapat hiburan yg bikin mata melek, dari ngantri ketemu penumpang yg marah2 krn susah lewat, operator busway yg ngomel2 krn perubahan jadwal kerja, pengendara motor yg marah krn mo nyalip gak bisa trus mukul2 busway ditambah operator buswaynya malah marah2…. bikin melek! 😁😁😁

You are what you think! Cara kita memandang hidup dan menghadapi masalah merely depents on our mindset, sesederhana apapun itu. Perumpamaan sadisnya; you are allowed to mourn when you loose your loved ones, it is okay to grieve when you break up from girlfriend/boyfriend, we have the right to feel the sorrow, tapi meratapi diri dan merasa kurang beruntung adalah pilihan. Kita bisa memilih utk berpikir apa yg kita alami adalah kemalangan atau kesempatan utk belajar memahami kekuatan kita utk bertahan.

Jadi, (meskipun gak nyambung) mau melewati hari sambil ngomel krn merasa sdh bekerja mati2an tapi malah dikomplen atau kerja sambil minum kopi & dengerin lagu2 dari youtube? Krn hari akan tetap berlalu setelah 24 jam, tapi anda punya pilihan utk melewatinya dgn kekesalan atau nyanyian. Semua terserah anda.

*saya menulis sambil menikmati busway yg jalannya ajrut2an*

Cek Toko Sebelah

Jumat kemaren nobar film ini sama temen2 toastmaster, seru! Udah lamaaaaaaa banget gak nonton film Indonesia, tadinya rada males gara2 liat film Indonesia yg isinya kebanyakan soal cinta, apalagi yg berbalut agama, meskipun justru film2 spt ini yg laku di pasaran. Mbak Nia suggested me kalo film Indonesia sekarang udah bagus2 kualitasnya, dan krn nontonnya rame2 akhirnya mutusin ikut, in fact, jadi seksi sibuknya hehehe…..

Well, mungkin krn gw less romantic, liat adegan cinta2an tetep berasa geli but I found out adegan cinta2an di film ini dipoles gak cengeng2 amat, masih ada idealisme di sana ketika nilai2 dalam keluarga harus berhadapan dgn rasa cinta Erwin, si anak bungsu, thd Natalie, pasangannya (realita 1). Cerita berlanjut ketika anak kesayangan punya cita2 utk berkarir ke luar negeri sementara orang tua berharap si anak meneruskan usaha keluarga, toko kelontong. Hal yg jamak terjadi terutama di keluarga keturunan di Jakarta; anak muda lulusan S2 di luar negeri berkarir sebagai pengelola toko warisan keluarga di Glodok (realita 2). Sementara Yohan, anak sulung yg nasibnya tak seberuntung adiknya Erwin, drop out kuliah saat sang mami meninggal dunia dan merasa hancur krn kehilangan pegangan hidupnya. Yohan yg menganggap toko adalah satu2nya peninggalan mami yg bisa jadi pengikat batinnya dgn kenangan mami ingin mengurus toko dgn hatinya, merasa dia lebih berhak mengurus toko, apalagi dia melihat adiknya lebih fokus ke karir. Sementara sang papa merasa krn Yohan kurang bisa mengurus hidupnya, maka dia belum layak utk diserahi tanggung jawab utk mengurus toko. Maklum, pekerjaan sbg wedding photographer membuat penghasilannya tak menentu & kadang2 harus pinjam uang ke papanya (realita 3).

Yg paling menarik adalah cerita ttg Anita, sekretarisnya Pak Robert, developer yg ingin membeli toko Koh Afuk, ayahya Erwin. Anita adalah single mother yg harus rela berdandan seksi krn permintaan bosnya dan harus rela pula dilecehkan krn dia perlu biaya utk hidup & sekolah anaknya yg masih SD (realita 4). Saya pernah kerja di mining company, mendengar & melihat sendiri teman2 wanita yg terlihat senang kalo dapat kesempatan bercanda dgn bule, meskipun gaya bercandanya dgn cara pukul pantat. Miris.

Dari semua realita yg saya temukan di film ini, bahkan remeh temeh pelengkap dlm cerita ini bisa jadi pelajaran realita buat kita, membuat saya berpikir ada berapa banyak pengorbanan yg harus kita buat hanya utk mencapai mimpi & cita2, siapapun kita. Ada berapa banyak rasa sakit hati yg harus kita rasakan hanya krn kita berpikir bahwa itulah satu2nya jalan utk bisa berhasil? Bagaimana jika kita merasa gagal mencapai cita2 kita, merasa anggota keluarga kita nggak mengerti apa isi hati kita, merasa dianggap tidak mampu sementara yg tidak peduli malah dapat kesempatan, merasa salah jalan dan gak bisa putar balik.

Pernahkah terpikir utk kita step back, melihat lagi jalur hudup kita, redefine our goals.

Saya tidak pernah membuat yg namanya resolusi awal tahun atau target, saya punya goal tapi yg saya lakukan adalah redefine my life, my goals, every once in a while, everytime the hard times stop me from progress. When we’re taking step back, we’ll be able to see our life from outside of the circle, mulai bisa melihat peran setiap orang di sekitar kita, bisa melihat lebih jelas hikmah dari setiap hal yg kita alami. Above of all, lebih bijak saat memahami perbedaan krn kita melihat dgn lebih jernih dasar pemikiran org lain. Lebih cermat melihat kesempatan berkarir. Coz life sometimes gets blur. When life gets blurry, adjust your focus!

Toastmaster

Sabtu kemaren ikutan Toastmaster TLI (Toastmaster Leadership Institute) di Erasmus Huis. Dateng krn saya jadi salah satu executive committee (exco) nya club WB, jadi treasurer. Ikut berpartisipasi buat nambah2in point buat club, ini part 2 nya training & point jadi komplit kalo attended part 1 & 2. Well, itung2 nambah wawasan & pengalaman, sedikit ilmu juga sih. Alasan pertama ikutan toastmaster krn dibayarin sama kantor, alasan berikutnya ‘coz I’m a talker! I can talk as long as I want, tapi berasa butuh belajar speaking management biar bisa managing thoughts & deliver in an appropriate way. Berasa seneng krn baru kali ini ada orang hobi ngomong dibayarin sama kantor ha ha….! After attending several toastmaster meetings mulai ngerasa efek toastmaster sama kerjaan; distraction dari kejenuhan kerja & stress release! Seru bisa ngobrolin hal2 selain kerjaan, dapet cerita2 baru dari luar sana dgn perspektif baru; perjuangan reformasi masa orde baru dari Mbak Nia, ambisi & politik para petinggi toastmaster dari Mbak Risdi, cerita clubbing nya Surya. Menyenangkan!

Well, dari sekian banyak hal baru yg saya dapatkan dari toastmaster, ambisi & politik di dunia toastmaster adalah hal yg paling menarik perhatian saya. It comes to my attention that ambisi bisa membuat skala prioritas seseorang jadi alasan utk dia berusaha keras & melakukan apa saja demi mendapatkan posisi di club & district, bahkan international level! It scares me in a way, posisi di toastmaster matters to some people. Pernah nanya sama Mbak Risdi fasilitas yg bisa di dapat di toastmaster kalo kita punya posisi, I only understand that we would have to carry out 52 travels and funded by toastmaster, or if we join international contest, go to DC and also funded by toastmaster. Not saying that we’re better, we’re just lucky that WB provides trainings in abroad even in DC. Setidaknya alasan ini membuat WB club members less ambitious dan menjadikan kami lebih santai utk deliver speech and complete out projects. The good thing about this is, meeting terasa menyenangkan ketika member nya nggak bersaing satu sama lain.

That’s one thing, another thing is I found out in the TLI that some people take toastmaster as an English lesson. Terlihat dari sebagian yg hadir kurang pede saat berbicara dlm bahasa Inggris, sementara yg lainnya terlihat sangat sangat pede dan mengatur cara bicaranya agar kata2 yg keluar terdengar fluent. Hmmm…. menarik yah… bahwa ternyata bagi sebagian orang, speaking English bisa menaikan gengsi. Sementara bagi sebagian member WB club, mungkin krn ngomong Inggris di kantor sampe eneg, membuat kami punya alasan lain utk join toastmaster; speaking management & presentation skill.

Balik lagi ke pemikiran bahwa semua tindakan kita berawal dari mindset, butuh pemikiran rasional utk punya alasan kuat bagi saya join toastmaster. My friend Lisa Warouw, made it makes senses to me to join toastmaster. But when you think toastmaster is one way for you to learn English or even to escalade your social level, maka yg kamu dapat adalah geng yg jago English & yg pas2an, plus geng yg punya posisi & only members. Dari TLI aja udah keliatan yg pasang muka & gaya pede over dosis krn berasa English nya ok (meskipun tetep aja salah 😂) & punya posisi, yg ambisinya tercermin saat maju ke depan & wajah bangga saat dapat tepuk tangan. Lucunya, Surya, salah satu member WB club cuma cengar-cengir saat dia diminta maju utk presentasi breakout group dan cengiran lebar saat kami ngumpul… atau Mbak Ira yg jadi MC tapi kelaperan, Mbak Risdi yg senang hati nganterin temen2 district, belum lagi Mbak Nia yg lupa title nya dan berapa jumlah member WB club ha… ha… club ini memang kocak banget!

Toastmaster bisa jadi sarana pembuktian aktualisasi diri saat kita tidak mendapat penghargaan yg kita inginkan dari sekitar kita, toastmaster juga bisa jadi alat penambah tingkat pede dan gengsi saat kita merasa ada yg kurang dlm diri kita dibandingkan rekan2 kerja di kantor. Ekstremnya, toastmaster bisa jadi tolak ukur kesuksesan kita ketika persaingan sudah merambah dunia kerja. Hhmmm…… berat banget hidupnya yak!

And as for us, photo-photo! Ha ha….. 😅😅😅

Unkiss Me

Lagi dengerin lagunya Maroon 5 “Unkiss Me”, lagu patah hari yg bikin hati sediiiiiihhhhh…. Patah hati memang gak ada obatnya, kecuali kita sendiri yg bilang cukup ke diri kita sendiri. Gw juga pernah patah hati, ditinggal Ibu 3 th yg lalu, persisnya 29 Maret 2014. Rasanya ada lubang hitam di dasar hati yg gak bisa ditutup in any way, senyap. It took me two years to let go my denial, at last…. I couldn’t even cry since it hurts me so bad, felt like you lost your other half. Ibu itu pahlawan, her strength inspired me, in an unexplained way unconsciously became the basis of any decision I make and any action I take. I’ve traveled to many places dan selalu ada alasan untuk kembali ke Ibu, bahkan setelah beliau tiada, ke makam Ibu. Gw bukan orang cengeng tapi menulis ttg Ibu selalu biking gw pengen nangis. Well, that happens to everyone, I guess (ngeles yak!).

Ok, back to our business. Selalu ada alasan utk bersedih saat kita patah hati, denger lagu patah hati nangis, lewat tempat biasa kencan sama mantan nangis, buka dompet kado dari mantan nangis. Taukah kalian kalo yg bikin nangis itu pikiran kita sendiri? Karena kita berpikir betapa sedihnya diri kita karena kehilangan pasangan, betapa sakitnya hati kita. Hmmm…. Wajar sih, gw juga pernah nangis habis putus sama pacar dulu, duluuuuuuu banget. But don’t torture yourself, pernah denger lagunya Kelly Clarkson “What Doesn’t Kill You Makes You Stronger” khan? Betul! Itu lagu yg ngajarin kita bahwa selama pengalaman kita itu hanya sebatas bikin sakit hati maka dia akan ngajarin kita cara how to survive after the grief. Temen gw Mbak Dewi bilang: kalo cinta sama orang tuh pake hati, jgn pake jiwa, jadi kalo bubaran cuma sakit hati, gak sakit jiwa. Bahwa bersedih itu bagus utk ngeluarin rasa sakit hati, tapi lebih sehat lagi kalo kita look back & mencoba introspeksi what we should & shouldn’t do kalo nanti starting a new relationship.

Starting a relationship is one thing, but changing yourself hanya karena kamu pengen memenuhi kriteria pasangan is a big thing. Jaman kuliah dulu gw pernah naksir cowok trus nyoba pake rok karena gw tau dia suka cewek yg dandannya cantik, bukan cewek tomboy kayak gw. You know what? It wasn’t last longer, kita gak sempet pacaran tapi gw bisa narik nafas lega setelah gw kembali pake kemeja & jeans belel, gak malu ngomong kenceng² & ketawa ngakak… Yg gw pahami, cinta sesama manusia itu bisa tertutupi oleh rasa capek atau bosen kalo kita present diri kita jadi orang lain krn keinginan pasangan, what will happen kalo kita udah pisah sama pasangan kita itu? Balik jadi diri kita sebenernya? Berapa lama waktu yg terbuang percuma, kalo gitu. Belajar sabar? Well, belajar sabar gak harus membohongi diri sendiri khan? Belum lagi teman² & keluarga kita yg dijamin bakal merasa aneh liat kita & mulai menjauh, rugi amat! What a waste!

Well, it’s your call. Jadi diri sendiri itu menyenangkan tauk! Gak bohong sama diri sendiri hanya karena pengen nyenengin cowok, gak bikin dosa pulak!

New Chapter

Taking new roles, more advanced roles, when you’re not ready, is something that makes you dragged yourself, pushed yourself to the limit, at some point where you think you no longer have ability to move forward, but you moved on! Such tasks that upgraded your level, pushed you to the limit, but at the end of the day, you’re the winner of your own race between your stress and your achievement.

Being handed over the tasks from my workmate months ago, with very little details in hand over, is quiet challenging. Not given the opportunity to sit together and go through the details, asking questions is not the option either. Tried once, though. Guess the answer; “I don’t know what you mean, I don’t remember either” The message is only: be independent. I didn’t know that independent means you don’t need to transfer your knowledge, you don’t need to provide the details of the works you’ve done, you’re currently doing and need to be done shortly, you don’t need to share the information on how to perform the tasks. I didn’t know that being independent means you can walk away after writing one page email of the brief that I already knew.

Well, I can’t expect people to be fair and not to dearly hold the information and knowledge for themselves, right? I can push myself, instead. Not an easy one, but I did it. Pheww…

At some point we were expected not to be destructed by our thoughts of such situation, at some point we were expected to deliver the results instead of  mumbling. At some point where we had to manage the anger, and work with minimum supervision while the requirement given is above your capability. That’s tough!

But anyway, the world doesn’t stop its rotation for your grief, the world doesn’t need to know your problem, but they need you to deliver the products. I didn’t have time to grieve, people!